Format Gugatan Hak Asuh Anak oleh Kuasa Hukum
11/09/2019
Perceraian dengan alasan-alasan menurut Undang-undang
30/09/2019

Hak Asuh Anak Paska Perceraian

Perceraian tak jarang terjadi dalam suatu pernikahan, dewasa ini perceraian dianggap hal yang wajar dalam pernikahan, jika tidak sepaham maka terjadilah percecokan secara terus menerus dan akhir cerai adalah satu satu jalan yang ditempuh dengan mengajukan gugatan atau permohonan ke Pengadilan Agama, dan begitulah cara berpikirnya masyarakat kita saat ini, jika diamati disetiap pengadilan Agama di Indonesia kasus perceraian yang sangat dominan, padahal sebelumnya hubungan keluargaan ini berlandasan adanya rasa cinta antara satu dengan yang lainnya.
Dengan adanya kasus perceraiaan, selanjutnya adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan hak asuh anak setelah terjadinya perceraian, dengan siapa anak tersebut nantinya diasuh, apakah hak asuh anak jatuh pada Ibunya atau kepada Bapaknya, dan bagaimana kesepakatan kedua orang tua anak tersebut yang berhubungan dengan masa selanjutnya seperti :
Nafkah anak, biaya kesehatan serta biaya pendidikan sampai umur anak dewasa atau mandiri sesuai aturan-aturan yang berlaku.
Dalam Kompilasi Hukum Islam, terdapat beberapa pasal yang dapat dijadikan rujukan atau yang dapat dijadikan dasar hukum tentang hak asuh anak dibawah umur sebagai berikut :
1. Kompilasi Hukum Islam Pasal 105 berbunyi sebagai berikut :
Dalam hal terjadinya perceraiaan :
a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyis atau belumberumur 12 tahun adalah hak Ibunya
b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyis diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah dan ibunya sebagai hak pemeliharaannya
c. Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya
Dan dari bunyi pasal tersebut diatas dapat dilihat adanya penegasan tentang kewajiban pengasuhan secara material dan non material adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.
Lebih dari itu, menyatakan bahwa pengasuhan anak tetap menjadi tugas kedua orang tuanya walaupun mereka sudah berpisah atau bercerai.
Untuk anak dibawah umur 12 tahun masih ikut atau diasuh ibunya. namun tetap saja dalam hal ini umur 12 tahun tersebut tidak bersifat mutlak, tergantung mamfaat dan dampak negatif yang ada, dan hal ini dapat dilihat pada :
2. Kompilasi Hukum Islam Pasal 156 ayat (c), berbunyi sebagai berikut :
Apabila pemegang hak adhanah, ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan adhanah telah tercukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan, Pengadilan Agama dapat memindahkan hak adhanah kepada kerabat lain yang mempunya hak adahanah pula.
Berdasarkan apa yang telah diuraikan dalam pasal-pasal tersebut diatas, jelaslah bahwa bila terjadi perceraiaan, maka hak asuh anak yang masih dibawah umur jatuh kepada ibunya, akan tetapi tidak bersifat mutlak, tergantung manfaat dan dampak negatif yang ada, maka Pengadilan Agama dapat memindahkan hak adhanah kepada kerabat yang mempunyai hak adhanah pula termasuk kepada bapaknya selaku orang tua kandung.
Sekian, semoga bermafaat dan Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *